Betulkah HaDe pemenang Pilgub Jabar?
April 25, 2008
Hasil Pemilu Jabar:
Jumlah Pemilih: 27.933.259
Yang Golput : 9.130.604 (32,69%)
Yang memilih HaDe (PKS-PAN): 7.287.647 (26.09%)
Yang memilih AmaN (PDIP-PKB,PPP…): 6.217.557 (22,26%)
Yang memilih DaI (Golkar-PD): 4.490.901 (16,08%)
Suara tidak sah: 806.560 (2,89%)
Dari perolehan diatas, tampak bahwa pemenang PILGUB JABAR adalah Golput, hasil ini sama dengan PILGUB DKI kemarin, pemenangnya adalah Golput. Mengapa Golput jadi pemenang?
Dalam sebuah obrolan dengan rekan-rekan dari kalangan intelek, mereka mengatakan bahwa sekarang ini masa yang sulit, setiap orang yang menjabat baik itu legislatif atau ekskutif, tidak pernah memperhatikan rakyat…mereka hanya perduli pada jabatannya dan partainya…bahkan rela menginjak rakyat demi kepentingan partai dan jabatannya. Jadi mereka Golput karena mereka menyadari bahwa suara mereka hanya dijadikan alat oleh partai atau para balon untuk meraih kekuasaan.
Saya pun mendengarkan curhat seorang teman, kader sebuah partai, yang dia menyusuri pelosok-pelosok pedesaan di Bogor ketika PILGUB kemarin. Mereka bertanya pada para petani (maksudnya berkampanye juga, sambil menyerahkan santunan sembako). Ternyata komentar para petani itu melukai hatinya, karena para petani di pinggiran kota Bogor itu bertekad GOLPUT dengan alasan: tak ada pigur balon dan partai yang mau memperhatikan nasib rakyat kecil…mereka hanya mengumbar janji tanpa bukti… kami sudah bosan dengan janji-janji, dengan atau tanpa pemimpin hidup kita tetap melarat.
Dalam sebuah majelis ta’lim yang saya hadiri, di sebuah desa pigiran Kota Bogor, sang Ustadazah ditanya madu’nya tentang calon gubernur mendatang yang harus mereka pilih (ingat zaman golkar, setiap majelis ta’lim dimobilisasi untuk pilih golkar, jadi madu’ ini bertanya, takut salah pilih katanya), maka sang ustadzh menjawab, “ya…pada saat sekarang mah, milih yang mana saja sama, saja. Tak akan mengubah banyak hal. Jangan berharap jika si Anu terpilih, hidup kita jadi sejahtera. Jika ingin sejahtera semua kita harus mau diatur oleh syariat Islam”
Tampaknya kalangan ulama dan pemuka agama pun jadi sepakat bahwa politik sekarang hanya berputar disekitar kursi dan kursi….(konflik internal partai PKB pun menjadi contohnya), sehingga tak ada upaya mobilisasi lagi dari para pemuka agama, para pemuka agama pada saat sekarang cenderung memberikan gambaran, hanya syariat islam lah yang akan mengeluarkan kita dari krisis, dan membawa kesejahteraan.
Jadi GOLPUT di PILGUB JABAR, adalah gambaran:
1. Rakyat yang mulai berpikir cerdas
2. Para pemuka agama yang kini tidak memihak salah satu partai pun dan tidak pula memobilisasi, kecuali mobilisasi syariat islam.
3. Meningkatnya angka Golput mengindikasikan ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem yang telah dan sedang dibangun oleh para legislatif yang merupakan para wakil dari PKS, PAN, GOLKAR, PDIP, PKB, PPP, PBB, dan partai kecil lainya.
4. Meningkatnya GOLPUT menunjukan ketidak butuhan rakyat akan lembaga eksekutif yang senantiasa menampakkan jiwa rakus, korup, dan menjual negara ini pada asing, sehingga rakyat menjadi melarat.
so…..itulah wajah negaraku yang sedang berdemokrasi!
April 29, 2008 pada 8:24 am
HHHmmm …
Saya hanya bisa berdoa semoga semuanya bisa berjalan ke arah yang lebih baik …
Bukan begitu ibu ?
Apa kabar ibu ?
Keluarga sehat semua kan ?
Salam Saya …
(dari seputaran UIN juga )
terima kasih atas kunjungan kembali, alhamdulillah baik dan sehat. salam saja juga buat keluarga
Mei 1, 2008 pada 10:30 am
Insya Allah , bener
terima kasih atas kunjungannya, mudah-mudahan…..ya?
Mei 5, 2008 pada 3:20 am
btw, bu yanti sendiri ada di barisan mana?apakah berdiri di Golongan yang Putih alias membiarkan blanko suwara tak berlubang atawa ikut “menggelembungkan” angka kemenangan Hade?
Mei 13, 2008 pada 6:36 pm
Bu Yanti, saya sangat setuju dengan pendapat Bu Yanti tentang tidak kondisi dimana rakyat tidak mempercayai pemimpin yang ada sekarang. oleh karena itu, agar para pemimpin tersebut bisa tetap pada jalur yang benar, adalah tugas kita semua untuk mengontrol dan memberikan masukan atau bahkan protes, kalau pemimpin itu salah…..
mari kita kritisi kebijaksanaan pemimpin kita yang salah….