MGMP PLUS LESSON STUDI, MENGAPA TIDAK?
Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Aksara Edisi Agustus dan September 2009
“Keberadaan MGMP yang diharapkan bisa menjadi media bagi peningkatan dan pemerataan mutu tenaga pendidik yang lebih intens, cenderung vakum dan mengalami situasi yang kurang diminati. Hal tersebut akibat MGMP masih berkutat sebatas membahas dan mengerjakan RPP, Silabus, dan kisi-kisi soal”
(Kasie Kurikulum Dikmenum Disdikpora Kota Bogor, Aksara Edisi 22)
Dari paparan Pak Ari di atas, tampak kekhawatiran dari Kasie Kurikulum Dikmenum Kota Bogor, tentang keberadaan MGMP. Sebagai sebuah kegiatan memantapkan profesionalisme guru, MGMP memang memiliki banyak nilai plus, walaupun bersifat rutinitas dan acapkali menjadi kurang gereget. Akibat kurang inovasi, banyak forum MGMP yang akhirnya terjebak pada sebuah rutinitas saling meng”copy paste” RPP dan silabus. Sebenarnya tidak ada salahnya melakukan “copy paste” silabus dan RPP, jika dibarengi dengan sebuah pengalaman bahwa silabus dan RPP yang digunakan terbukti keefektifannya. Untuk menguji keefektifan sebuah RPP, maka diperlukan implementasi. Pemantauan terhadap implementasi RPP secara kolaboratif dan kolegalitas itulah yang kemudian terkenal dengan Lesson Studi.
Di Indonesia kata “Lesson Studi” makin popular, pasca konferensi Internasional lesson studi di UPI Bandung, pada Agustus 2007 yang baru lalu. Sampai-sampai lesson studi menjadi agenda penting dalam Pelatihan dan Pendidikan Profesi Guru untuk guru-guru Jabodetabek yang tidak lolos portofolio 2007. Pertanyaan pun bermunculan, apa, mengapa, dan bagaimana lesson studi itu?
Lesson studi pada awalnya dipopulerkan oleh guru-guru Jepang. Lesson studi adalah terjemahan dari Jugyokenkyu. Jugyo artinya pembelajaran yang dibahasa inggeriskan menjadi lesson, dan kenkyu artinya pengkajian atau penelitian yang dibahasa inggeriskan menjadi studi . Jadi lesson studi artinya penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. Lesson studi di Jepang berkembang pada tahun 1960an yang dikenal dengan konaikenshu (konai = sekolah, kenshu=training), yaitu lesson studi yang diselenggarakan oleh satu sekolah. Pada tahun 1970an, pemerintah Jepang merasakan manfaat konaikenshu, dan mendorong sekolah-sekolah untuk melaksanakan konaikenshu dengan memberikan dukungan dana dan insentif bagi sekolah. Walaupun lesson studi menyita waktu, tetapi guru-guru memperoleh manfaat dalam peningkatan keterampilan mengajar mereka. Oleh karena itu lah lesson studi menjadi sangat popular di Jepang, dan banyak sekolah menerapakan secara sukarela, bukan semata-mata karena insentif.
Di Indonesia lesson studi diperkenalkan lewat kerjasama IMSEP-JICA di UPI (IKIP Bandung), Universitas Negeri Yogyakarta (IKIP Yogyakarta), dan Universitas Malang (IKIP Malang). Pengkajian dan ujicoba yang dilakukan mulai tahun 2001 memperoleh model lesson studi ala Indonesia. Sosialisasi model lesson studi ala Indonesia pada saat ini sedang dikembangkan di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Pasuruan.
Hal yang paling menarik dari lesson studi adalah ketundukan Amerika Serikat pada Jepang. Amerika pada saat ini merupakan mesin produksi inovasi pembelajaran dan berbagai ilmu kependidikan atau pedagogi, pada akhirnya harus mengakui keunggulan lesson studi dan dengan kebesaran hati mengadopsi Lesson Studi ini di negaranya. Dalam sebuah tulisannya Lewis (2002), mengalogikan “Lesson Studi” seperti orang Amerika mengadopsi sushi. Sushi yang sangat susah diadopsi oleh orang Amerika, pada akhirnya sangat dipopuler dan digemari. James Stigler and James Hiebert (1999) dalam “The Teaching Gap” menjelaskan mengapa Amerika harus mempertimbangkan lesson studi?
The United States will become a second-rate economic power unless it can match the educational performance of its rivals abroad and get more of its students to achieve at the highest levels in math, science and literacy. Virtually every politician, business leader and educator understands this, yet the country has no national plan for reaching the goal. To make matters worse, Americans have remained openly hostile to the idea of importing strategies from the countries that are beating the pants off us in the educational arena.
Pendapat James Stigler and James Hieber, dipertegas lagi oleh Brent Staples dalam sebuah opini di Koran New York Times pada tahun 2005
The United States will need a radically different mind set to catch up with high-performing competitors. For starters we will need to focus as never before on the process through which teachers are taught to teach. We will also need to drop the arrogance and xenophobia that have blinded us to successful models developed abroad.
Ada banyak pola lesson studi. Pola lesson Studi yang diadopsi di Indonesia adalah yang dikembangkan hasil melalui Fase Follow up IMSTEP (2003-2005) kerjasama tiga LPTK (UPI, UNY, dan UM) dengan JICA (Hendrayana, 2006). Praktek lesson studi di Indonesia dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi) yang berkelanjutan. Skema kegiatan lesson studi diperlihatkan pada gambar 1. Pola siklik Plan, do and See menjadikan lesson studi sebagai suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement) (Hendayana, 2006).
Pada prakteknya lesson studi dapat menggunakan pola satu sekolah atau pun pola MGMP. Pada tahap kegiatan Plan, para guru membuat RPP besama-sama termasuk mempersiapkan teacing material (Lembar Kerja Siswa) yang berbasis aktifitas minds on dan hand on (Pembelajar aktif kreatif menyenangkan efektif/PAKEM). Pada tahap Do, guru-guru yang berkolaborasi dalam membuat RPP menentukan satu orang guru model yang akan menerapkan RPP, dan guru lainnya menjadi observer. Hal yang paling penting harus diperhatikan dalam tahap DO adalah “peran guru observer”. Berbeda dengan model observasi praktek mikro teaching atau Praktek Pengalaman Lapangan Calon Guru, yang mana si calon guru/guru model yang diamati oleh para observer, kemudian dikritisi kekurangan-kekurangannya, maka pada lesson studi ada larangan keras untuk mengobservasi guru model. Observasi pada lesson studi hanya difokuskan pada aktifitas siswanya saja. Aktifitas siswa selama RPP itu diimplementasi guru model itu saja yang diamati para observer. Pada tahap See, guru model dan para observer berkumpul kembali untuk berbagi informasi hasil pengamatan para observer. Moderator pada tahap ini harus arif memilih jangan sampai ada ungkapan yang memunculkan observasi pada guru model, moderator harus tetap menjaga hasil obervasi hanya pada aktifitas murid selama pembelajaran berlangsung. Sehingga guru model tidak akan merasa tersinggung dengan aktifitas lesson studi, tetapi perbaikan pembelajaran tetap terjadi dan peningkatan profesionalisme guru pun berlangsung.
Semua tahap kegiatan ini sesuai dengan maksud lesson studi yaitu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Studi merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Studi merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Hendayana (2006) merumuskan lesson Studi sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Jadi, mengapa tidak dari sekarang kota Bogor mulai menerapkan MGMP Plus Lesson Studi, agar MGMP kota Bogor bukan MGMP Biasa.
2 comments so far
Leave a reply


assalamualaikum,
wah ada dosen UIN.
ini saya titip satu postingan mengenai UIN.
mohon dibaca ya bu……
berkunjung…..
ternyata tidak jauh-jauh, jepang memang hebat…