Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Pendidikan Aksara, berturut-turut pada edisi: 42 (Febuari 2011), 43 (Maret 2011), 44 (April 2011), dan 45 (Mei 2011)
Sering sekali diperdebatkan, mana yang lebih penting dikuasai guru sains dalam mengajarkan sains, apakah penguasaaan konten sains atau pedagogi? Keduanya sesungguhnya penting, dan bagaimana guru melakukan amalgam antara pengetahuan konten dan pedagogi dapat diamati dari kemampuan PCK. Bahkan PCK dapat dikembangkan menjadi instrumen untuk supervisi pendidikan baik oleh Pengawas maupun oleh professional yang punya perhatian terhadap kemajuan pendidikan IPA. Apa, mengapa, dan bagaimana supervisi berbasis PCK? Tulisan di bawah ini akan memaparkan lebih lanjut
A. Rasional
Pengajaran sains tidak pernah lepas dari pengetahuan tentang konten (content knowledge) dan pengetahuan tentang pedagogi (pedagogical knowledge). Siregar (2003) mengemukakan bahwa pengajaran sains adalah sebuah fenomena wacana sains dalam lingkungan pedagogi. Ketika seorang guru sains mengajar, maka ia merepresentasikan amalgam pengetahuan konten dan pedagogi, yang oleh Shulman (1987) disebut dengan Pedagogical Content Knowledge (PCK). Shulman menjelaskan PCK adalah akumulasi dari Knowledge of subject matter, Knowledge of students & possible misconeptions, Knowledge of curricula, and Knowledge of general pdagogy.
PCK bukan bentuk tunggal yang sama untuk semua guru yang mengajar sains, melainkan keahlian khusus dengan keistimewaan individu dan berlainan yang dipengaruhi oleh konteks/suasana mengajar, isi dan pengalaman. PCK bisa sama untuk beberapa guru dan berbeda untuk guru lainnya, walaupun begitu PCK merupakan titik temu pengetahuan professional guru dan keahlian guru. Oleh karena itu banyak peneliti menyimpulkan bahwa PCK merupakan pengetahuan yang dikembangkan guru sepanjang waktu, melalui pengalaman, bagaimana mengajarkan suatu materi dalam aneka cara untuk mendapatkan kekayaan pemahaman siswa.
Penelitian Shulman, menunjukkan komponen PCK terdiri dari tujuh yang semuanya menggambarkan pengetahuan professional guru sains (lihat Tabel 1). Berdasarkan ketujuh komponen PCK tampak bahwa untuk dapat mengenal dan menilai pengembangan PCK, guru sains perlu memiliki pemahaman konseptual yang kaya tentang isi subyek sains yang diajarkan. Pemahaman konseptual yang kaya ini berkombinasi dengan keahlian dalam pengembangan, penggunaan dan adaptasi prosedur mengajar, strategi dan pendekatan untuk digunakan dalam kelas, penggabungan tersebut dapat menghasilkan amalgam dari pengetahuan konten dan pedagogi. Hal ini senada dengan yang dikemukan pula oleh Van Driel et al. (1998, dalam Bond-Robinson, 2005), PCK dianggap pengetahuan keahlian, didefinisikan sebagai pengetahuan terintegrasi yang menyajikan akumulasi kebijaksanaan guru mengenai praktek mengajar mereka. Sebagai pengetahuan keahlian menuntun aksi guru dalam praktek, meliputi pengetahuan guru dan keyakinan tentang berbagai aspek seperti pedagogi, murid, materi subjek dan kurikulum. Pengetahuan keahlian ini diperoleh dari pendidikan sebelumnya, latar belakang personal guru, konteks mengajar, dan melalui pengalaman mengajar yang sedang berlangsung. Oleh karena itu kebijaksanaan dari pengetahuan keahlian menghasilkan perilaku efektif pada sebagian guru yang memilikinya.
Tabel 1. Tujuh komponen dan elemen-elemen spesifik pada PCK
|
Komponen |
Elemen |
| Knowledge of science | Science content, scientific practice, the nature of science, scientific process |
| Knowledge of goals | Scientific literacy, real-life aplication, integrated understanding. |
| Knowledge of students | Different levels, needs, interests, prior knowledge, ability, learning difficulties, misconceptions. |
| Knowledge of curriculum organisation | State and local standards, state and local standardise tests, making connections between lessons and units, organising lessons in specific order, making decisions about what to teach, flexible design. |
| Knowledge of teaching | Various teaching methods, use of motivating activities, ability to select effective activities. |
| Knowledge of assessment | Formal in formal ways of assessment, skills for students discusion and questioning, immediate fedback. |
| Knowledge of resources | Materials, activities, multimedia, local facilities, laboratory technology, science magazinnes. |
Urgensi PCK sebagai kemampuan professional guru juga dikemukakan oleh The National Science Education Standards [NSES] (National Research Council, 1996) ; “ incorporated the concept of PCK as an essential component of professional development for science teachers”. Pada tahun 2003 NSTA mengambarkan urgensi PCK dalam mendukung pengajaran sains seperti gambar 1.
Gambar 1. Urgensi PCK dalam Pengajaran Science (dikutip dari NSTA Standards for Science Teacher Education, 2003
PCK dapat digunakan untuk mengukur kepatuhan professional (professional compliance) guru sains. PCK mampu memotret dan menilai mind of teacher dalam ruang lingkup system. Hasil pengamatan dan penilaian akan menjadi bahan bagi perbaikan kualitas pengajaran sains. Jika supervisi berbasis PCK dilakukan, maka akan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran sains yang berkelanjutan. Judith Lederman (tersedia di http://www.iit.edu/csl/msed/programs/grad/pre_service_education.shtml)
mengembangkan PCK sebagai sebuah sistem sekolah seperti pada Gambar 2. Gambaran Judit Lederman bersinergi dengan Burgard (2000) yang membahas continous improvement in the science classroom. Burgard berpendapat bahwa untuk mewujudkan peningkatan yang berkelanjutan pada kelas sains, maka kelas haruslah dianggap sebagai sebuah system. Gambar 3 menunjukkan pendapat Burgard tentang kelas sebagai sebuah sistem.
Gambar 2. PCK sebagai sebuah sistem
Gambar 3. Kelas sebagai Sebuah Sistem
Sinergitas gambaran Judith Lederman dan Burgard menunjukan bahwa PCK memungkinkan untuk dikembangkan sebagai sebuah model supervisi pendidikan Sains.
B. Tujuan
Pengembangan model supervisi pendidikan sains berbasis PCK bertujuan untuk memotret, menilai, memperbaiki, dan meningkatkan kepatuhan profesionalisme guru sains. Kepatuhan profesionalisme guru sains tercermin dalam pengajaran sains yang sesuai dengan hakikat sains dan pembelajaran sains. PCK mampu memotret dan menilai kesesuaian pengajaran guru sains dengan hakitat sains dan pembelajaran sains, dalam bentuk amalgam pengetahuan konten (content knowledge) dan pengetahuan pedagogi (content pedagogy).
C. Asumsi-asumsi
Asumsi-asumsi yang mendasari pengembangan model supervisi pendidikan sains berbasis PCK adalah:
- Kepatuhan profesionalisme seorang guru sains adalah kemampuannya mengajarkan sains mengikuti hakikat sains dan hakikat pembelajaran sains. Menurut Ruterford dan Ahlgren (1990), pada hakikatnya sains adalah sebuah produk, proses, dan sikap/nilai, oleh karena ini pada hakikatnya pembelajaran sains harus mendasarkan pada inkuiri yang melibatkan keterampilan proses sains seperti observasi, klasifikasi, prediksi, pengendalian variable, dan perancangan percobaan. Apakah guru telah mengajar sesuai dengan hakikat sains dan pembelajaran sains, dapat diamati dari PCK.
Gambar 4. Pedagocical Konten Knowledge (PCK): Kesesuaian Pengajaran Sains dengan Hakikat Sains dan Pembelajaran Sains merupakan Salah Satu Kepatuhan Profesional Guru Sains yang dapat Diamati dari Amalgam Pengetahuan Konten dan Pengetahuan Pedagoginya
- PCK berfungsi memotret dan menilai pengajaran sains guru, hasil pengamatan dan penilaian ini dapat menjadi bahan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran sains. Refleksi terhadap hasil pengamatan dan penilaian menjadi bahan penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains. Djam’an Satori mengemukakan empat fungsi supervisi akademik yaitu fungsi penelitian, penilaian, perbaikan, dan peningkatan yang satu dengan yang lainnya saling berkorelasi seperti pada Gambar 4. PCK mampu mengakomodasi keempat fungsi supervisi akademik.
Gambar 5. Supervisi Pendidikan Sains berbasis PCK memenuhi Fungsi Supervisi Akademik [Djam’an Satori]
- PCK bertolak dari “what going on in the classroom”, dengan memfokuskan pada fenomena interaksi membangun logika internal antara pengajar, pembelajar, dan materi subyek. Hal ini sangat terkait dengan fokus pengawasan (supevisi) di sekolah. Hal ini bersinergi dengan pendapat Djam’an Satori, “ pengawasaan pendidikan di sekolah harus mengamankan mutu interaksi belajar mengajar yang berlangsung di kelas”

Gambar 6. PCK Memotret dan Menilai Fenomena Logika Internal antara Pembelajar, Pengajar, dan Materi Subyek yang terjadi Selama Proses Belajar Mengajar: Sesuai dengan Fokus Pengawasan Sekolah Menurut Djam’an Satori
D. Komponen- komponen Model
Model supervisi pendidikan sains berbasis PCK ditentukan oleh tujuan apakah bertujuan untuk mendiagnosa, membuat perencanaan pembelajaran atau mengevaluasi kualifikasi guru. Tujuan akan menentukan bentuk instrumen yang digunakan. Model supervise pendidikan sains berbasis PCK yang digagas terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Model Superpivisi Pendidikan Sains Berbasis PCK Tingkat Satuan Pendidikan
Berdasarkan gambar di atas, komponen penting dalam model supervisi berbasis PCK adalah:
1. Instrumen PCK
Ada tiga buah instrument PCK yang dapat digunakan. Ketiga instrument ini digunakan sesuai dengan tujuan dan apa yang ingin dihasilkannya.
a. Peta konsep
Peta konsep awalnya dikembangkan oleh Joseph Novak (1991, dalam Loughran et al.,2006). Melalui peta konsep kita bisa mengetahui konsep yang diketahuinya dan hubungan antar konsepnya. Peta konsep merupakan alat yg ampuh untuk mengorganisasi dan menyajikan pengetahuan. Pada mulanya peta konsep digunakan untuk penyajian hirearkhis pengetahuan, tapi sekarang peta konsep dapat menggambarkan kemampuan PCK guru.
Pada supervisi pendidikan sains, pengawas bidang studi dapat meminta guru sains membuat peta konsep sebuah materi. Selanjutnya pengawas memeriksa peta konsep tersebut dan menganalisisnya, kemudian membuat repertoire mengajar guru tersebut. Berdasarkan repertoire tersebut, pengawas bidang studi melakukan kualifikasi guru, yaitu A = Guru Sains Mahir, B = Guru Sains Madya, C = Guru Sains Pemula. Peta konsep berguna untuk mendiagnosa kemampuan guru dalam mengajar sesuai hakikat sains dan pembelajaran sains. Hasil diagnosa tersebut diejawantahkan dalam kualifikasi guru sains, yaitu A, B, dan C.
b. Pedagogi Materi Subyek (PMS)
PMS dikembangkan oleh Siregar (2003), merupakan sebuah cara untuk memotret fenomena wacana yang terjadi selama proses belajar mengajar. PMS menganggap proses belajar mengajar sebagai sebuah interaksi simbiosis muatualisma antara pengajar, pembelajar,dan materi subyek dalam membangun pengetahuan yang melibatkan logika internal. Karena anggapan bahwa proses belajar mengajar adalah fenomena wacana, maka metode analisis wacana digunakan untuk menilai kualitas proses belajar mengajar di kelas.
Pada supervisi pendidikan sains, pengawas bidang studi sains dapat mengobservasi, memotret, dan merekam proses belajar mengajar sains yang dilakukan oleh seorang guru sains. Hasil observasi dianalisis sesuai metode analisis wacana PMS, sehingga dihasilkan repertoire mengajar guru sains.
PMS dapat digunakan dual fungsi yaitu sebagai alat mendiagnosa dan mengevalusi. Diagnosis dilakukan untuk mendapatkan kualifikasi guru Mahir, Madya, dan Pemula dalam pengajaran sains. Guru mahir punya kewajiban melakukan among pada guru madya, selanjutnya guru madya berkewajiban melakukan among pada guru pemula. Evaluasi dilakukan untuk melihat bagaimana peningkatkan kualitas pengajaran sains setelah proses among dilakukan.
c. CoRe (Content Representation) dan PaP-ERs (.(Pedagogical and Profesional Experience Repertoires)
CoRe PaP-ERs dikembangkan oleh Loughran et al (2006). CoRe berisi uraian konsep-konsep atau materi yang dipentingkan dalam mengajarkan suatu topic tertentu. Sedangkan PaP-eRs merupakan cara bagaimana konten tersebut disampaikan. Melalui pap-er kita dapat melihat situasi di dalam proses belajar mengajar yang akan menentukan pedagogi. Gabungan keduanya menghasilkan Resource Folio PCK untuk topic tersebut. CoRe biasanya ditulis dalam bentuk tabel arah horizontal dan vertikal. Arah horizontal berisi ide-ide atau konsep penting dalam mengajarkan topic tertentu, Arah vertical berisi pertimbangan dan pemikiran guru dalam mengajarkan topic tersebut. Biasanya meliputi
- Mengapa siswa perlu mempelajari ide/konsep tsb?
- Mengapa penting bagi siswa?
- Hal-hal apa saja yang harus dijelaskan dan belum saatnya dijelaskan?
- Kesulitan apa yang biasanya dihadapi siswa?
- Bagaimana siswa memikirkan konsep tsb?
- Faktor lain apa yang mempengaruhi pengajaran konsep tsb?
- Bagaimana prosedur mengajarkannya?
- Bagaimana cara siswa memahami atau kebingungan mempelajari konsep tsb?
Hasil dari CoRe PaP-ERs mirip sebuah rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), atau dapat dikatakan sebagai RPP ala PCK. Jika pada RPP biasa kurang menggambarkan pengetahuan konten, pengetahuan pedagogi, dan amalgamnya; maka pada CoRe PaP-ERs akan tergambar jelas. Bahkan pada CoRe PaP-ERs dapat menggambarkan pengalaman, keahlian, dan profesionalitas seorang guru. Hasil CoRe PaP-ERs antara guru mahir, madya, dan pemula akan berbeda, karena adanya perbedaan pengalaman dan keahlian.
CoRe PaP-ERs selain digunakan sebagai alat diagnosis, juga dapat digunakan sebagai alat pembinaan dari guru mahir ke madya dan dari madya ke pemula. Guru Mahir dapat memomong guru madya dan pemula dalam membuat CoRe PaP-ERs, sehingga kualitasnya dapat berakselerasi dengan guru mahir.
Pada Gambar 7 terlihat bahwa Core PaP-ERs merupakan instrument yang dapat digunakan oleh pengawas untuk mendiagnosis kualifikasi guru, dan dapat digunakan untuk kelompok kerja guru dalam melakukan pembinaan terhadap sesama rekan. Berdasarkan hal ini, maka sangat penting pengawas dan guru dibekali dengan pengetahuan Core PaP-ERs.
2. Kualifikasi guru
Pada supervisi pendidikan sains berbasis PCK, kualifikasi guru ditentukan oleh hasil diagnosis menggunakan instrumen PCK bukan oleh ketentuan administrasi. Walaupun penelitian-penelitian pada PCK menunjukkan, kemampuan PCK guru seiring dengan pengalaman mengajarnya dan linieritas bidang ilmu yang diajarkannya dengan latar belakang pendidikannya, tetapi bukan mustahil berbagai pelatihan dan kompentensi personal mempengaruhi, sehingga guru yang masih berstatus madya mempunyai kemampuan PCK setara guru yang berstatus Pembina. Oleh karena itu, pada supervise pendidikan sains berbasis PCK harus senantiasa didahului diagnosis, baru menentukan kualifikasi apakah tergolong A= guru mahir, B=guru madya, dan C=guru pemula
3. Sistim among
Sistem among digunakan sebagai wadah pemberdayaan guru mahir untuk membina guru madya dan pemula. Pemberdayaan diarahkan pada among pembuatan rancangan pembelajaran ala PCK, yaitu CoRe PaP-ERs. Seorang guru mahir tidak akan kesulitan menentukan komponen baik pada CoRe maupun pada PaP-ERs, tetapi guru pemula boleh jadi akan kesulitan, sementara itu guru madya kontruksinya masih belum baik. Pemberdayaan ini dilakukan dalam bentuk learning community, lesson studi dapat dipadukan pada supervisi ini, karena lesson studi memiliki keunggulan dari sisi komunitas, kolegalitas, dan kontinuitas. Learning community antar guru mahir pada guru madya dan pemula, merupakan upaya peningkatan bahkan akselerasi kualifikasi guru sains.
4. Pengawas bidang studi, kepala sekolah, dan Learning Community
Model supervisi pendidikan sains berbasis PCK, mengharuskan keterlibatan pengawas bidang studi sains. Mengapa harus pengawas bidang studi sains? Karena PCK tidak hanya berkaitan dengan pedagogi saja, tetapi berkaitan dengan konten sains itu sendiri dan bagaimana amalgam antara konten dan pedagogi. Jadi hanya mereka yang berlatar belakang pendidikan sains yang mengetahui PCK, dan hanya mereka yang berlatar belakang pendidikan sains yang mampu menilai hasil PCK para guru. Pengawas menggunakan ketiga instrument supervisi (peta konsep, PMS, CoRe PaP-ERs) untuk menentukan kualifikasi guru sains (A/B/C). Berdasarkan hasil kualifikasi pengawas memberi rekomendasi kepada kepala sekolah tentang pemberdayaan guru mahir untuk membina guru madya dan pemula dalam sebuah learning community (misal lesson studi).
Peranan kepala sekolah pada model ini adalah sebagai pemantau dan penggerak agar learning community antar guru sains dalam satu sekolah berjalan dengan baik. Selain itu mengupayakan reinforcement agar guru mendapatkan penghargaan sesuai dengan kualifikasinya.
Komunitas belajar pada guru sains (Learning Community of Science Teacher) di sebuah sekolah merupakan jantung dari keberlanjutan supervisi model ini. Unsur komunitas, kolegalitas, dan kontinuitas harus terus dipelihara, lesson studi adalah praktek terbaik yang dapat dimanfaatkan pada model ini.
E. Hubungan antar Komponen
Hubungan antar komponen dalam model supervisi pendidikan sains berbasis PCK lebih jelas terlihat pada Gambar 8. Pada gambar terlihat hubungan sinergis dan berkelanjutan antara pengawas antar komponen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sains di tingkat satuan pendidikan. Pengawas menggunakan instrumen yang ada untuk menentukan kualifikasi guru. Hasil kualifikasi guru disosialisasikan kepada kepala sekolah oleh pengawas. Kemudian kepala sekolah memberdayakan system among melalui komunitas belajar di sekolah. Guru mahir (A) menjadi among bagi guru madya (B) dan pemula (C) dalam meninggkatkan kualitas proses belajar mengajar baik dalam perancanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran Sains. Komunitas belajar para guru sains akan diamati dan diteliti untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sains.
Gambar 8. Hubungan antar Komponen dalam Model Supervisi Pendidikan Sains Berbasis PCK
F. Strategi Implementasi
Implementasi model supervisi pendidikan sains berbasis PCK memerlukan beberapa kondisi yaitu;
- Pemahaman pengawas terhadap instrumen yang akan digunakan yaitu peta konsep, PMS, dan CoRe PaP-ERs
- Pemahaman guru tentang CoRe PaP-ERs sebagai model baru dalam mengembangkan RPP ala PCK
- Komitmen kepala sekolah dalam menghargai hasil kualifikasi dan menggerakkan kontinuitas penyelenggaraan learning community
- Komitmen pengawas bidang studi sains untuk melakukan pengamatan dan penelitian secara kontinu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran IPA
Kondisi tersebut dapat diciptakan dengan melakukan strategi berikut:
- Pembekalan PCK kepada para pengawas bidang studi IPA yang bisa dilakukan dengan cara pelatihan bekerjasama dengan Profesional Pendidikan IPA/Doktor IPA, P4TK IPA, LPMP, atau bekerjasama dengan dinas pendidikan setempat.
- Pembekalan PCK (penggunaan instrument CoRe PaP-ERs) bagi para guru dapat dilakukan oleh para pengawas.
- Reinforcement bagi guru sains yang berkomitmen tinggi dalam system among oleh kepala sekolah
- Reinforcement bagi kepala sekolah yang mampu menggerakkan learning community oleh pengawas
- Reinforcement bagi pengawas bidang studi yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran bidang studi di wilayahnya oleh kepala dinas, P4TK, LPMP, atau PT.
Secara garis besar strategi implementasi model supervisi berbasis PCK dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Strategi Implementasi Supervisi Pendidikan Sains Berbasis PCK
G. Indikator Keberhasilan
Keberhasilan implementasi model supervisi pendidikan sains bebasis PCK terlihat dari kepatuhan profesional guru sains dan mutu hasil pembelajaran sains. Kepatuhan professional guru sains terlihat dari kualitas PCK yang dihasilkan, yang bisa diobervasi, diamati, dan dinilai dalam RPP maupun implementasi pembelajaran sains. Selain itu, cara yang efektif dapat dilihat dari kuantitas guru dengan kualifikasi A. Makin banyak guru yang mampu meningkatkan kualifikasinya menjadi guru mahir (kualifikasi A), maka kepatuhan professional guru semakin baik.
Perbaikan kualitas guru sains dan meningkatnya kuantitas guru sains berkualifikasi A, sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan mutu hasil belajar sains. Sebagaimana dikemukakan oleh Djam’an Satori ‘core business’ dari pendidikan sains adalah mutu hasil belajar sains itu sendiri. Supervisi pendidikan sains pun bersifat ‘student driven’ yaitu kepentingan utamanya adalah layanan pembelajaran peserta didik, sehingga dicapai hasil belajar yang bermutu.
H. Evaluasi
Evaluasi implementasi terhadap model supervisi pendidikan sains berbasis PCK dilakukan dengan cara:
- Obervasi terstruktur untuk melihat implementasi model oleh pengawas, mengamati keberlangsungan dan keberlanjutan learning community oleh para guru sains, dan memonitoring komitmen reinforcement oleh pengawas terhadap kepala sekolah, kepala sekolah terhadap guru, dan oleh dinas pendidikan/LPMP/P4TK/Profesional pendidikan IPA terhadap para pengawas.
- Pemantauan terhadap keluhan masyarakat dan stakeholders sebagai pelanggan dan pengguna jasa pendidikan. Pelanggan dan pengguna jasa mempunyai hak ‘komplain’ (hak bertanya/minta pertanggungjawaban terhadap penurunan mutu). Stakeholders dan masyarakat sebagai pelanggan dan pengguna jasa sekolah, berhak mendapatkan mutu layanan dan mutu keluaran yang baik dari sekolah. Mutu layanan dan keluaran ini menjadi jaminan kepuasan dari lembaga sekolah kepada pelanggan dan pengguna jasanya. Pelanggan dan pengguna dapat menggunakan hak ‘komplain’ jika terdapat penurunan mutu, dengan cara mengkritisi keterlaksanaan penjaminan mutu (quality assurance). Supervisi pendidikan sains berbasis PCK sebagai salah satu quality assurance, dapat dikritisi jika mutu pembelajaran sains mengalami penurunan.
- Pencapaian indikator keberhasilan baik dari sisi kepatuhan professional guru sains maupun dari mutu hasil belajar sains. Indikator keberhasilan kepatuhan professional dan mutu hasil belajar sains sebagai bagian dari quality control. Melalui control mutu ini dapat terdeteksi ada atau tidaknya hal yang belum sesuai indikator.
Berdasarkan paparan di atas, tampak bahwa evaluasi dilakukan secara struktur dengan melibatkan pihak pengguna jasa (user) dan pelanggan (costumer), sehingga sekolah khususnya penyelanggara pendidikan sains berkeinginan untuk terus melanggengkan model supervisi ini, dan terjadilah peningkatan mutu berkelanjutan. Gambaran evaluasi pada model supervisi pendidikan sains berbasis PCK dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Evaluasi Model Supervisi Pendidikan Sains Berbasis PCK
Catatan:
Diperkenankan mengutif asal menyebutkan sumbernya: Herlanti, Y. 2011. Model Supervisi Pendidikan Sains Berbasis Pedagocal Content Knowledge. Bogor: Tabloid Aksara Edisi 42-45











terima kasih atas informasi ini sangat bermanfaat bagi kami