Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pendidikan Islam’ Category

Wawancara Siswa SMA tentang:

  1. Apakah mereka masih minum susu? Kapan minum susunya dilakukan?
  2. Apakah mereka sarapan di pagi hari? Apa yang biasa mereka makan?
  3. Seberapa sering mereka makan makanan cepat saji? (misalnya fried chicken dan burger)
  4. Seberapa sering mereka minum minuman berkarbornat? (misalnya coc* c*la, Pe*si, dll)
  5. Gali apa yang mereka ketahui tentang karbohidrat, protein, vitamin, mineral, lemak, dan serat!

 

Hasil wawancara dibuat dalam bentuk laporan sebagai berikut

No Nama Responden Usia Jenis Kelamin Jawaban pertanyaan no
1 2 3 4 5
1                
2                
3                
4                
5                

Read Full Post »

Wanita adalah tiang negara.  Tampaknya ungkapan ini sudah jarang terdengar seiring dengan “isu gender”  dan “emansipasi”.   Tampaknya, beribu-ribu kali harus dipikirkan untuk mengungkapkan kata-kata seperti ini, karena dikhawatirkan ungkapan tersebut mengandung bias gender.

Terlepas dari semua isu gender, harus diakui bahwa wanita dan ibu memiliki peran penting, ibu adalah pendidik pertama dan utama.  Mungkin kita bisa sedikit belajar sedikit memahami dan sedikit beribroh pada tradisi  Ibu-ibu jepang dalam mendidik anak.  Berikut ini tulisan Bapak Daoed Joesoep, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dimuat di koran Kompas sabtu, 7 Juli 2007.  Cukup jadul korannya, sengaja saya tetap menyimpan tulisan ini, karena tulisan ini bagi saya sangat berharga.   Hal yang beliau tulis adalah:

 

Peran Ibu
Pada tahun 1996, pendidik Amerika dari Charlottesville Virginia, Tony Dickensheets, berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu, beliau berpindah-pindah tinggal di beberapa keluarga karyawan. Berdasarkan pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negri Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng, yaitu peran kyouiku mama atau education mama.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak tahun 1960, bukanlah hasil kebijaksanaan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.
Maka dibalik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyouiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah perang dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.
Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya.Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantikannya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang mengajarkan anak-anak untuk berbuat begitu.”
Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.
Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya, seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia tegak kaku dengan senyum malu-malu. Ibunya datan dan mendekati dan menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru oleh anaknya. Setelah mengetahui saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa, banyak anak menghampiri saya, antri, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk, meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.

Perempuan dan Pendidikan
Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijaksanaan ryousai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manager urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Pada paruh ke dua abad 20 peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian dimantapkan selaku kyouiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets hal ini merupaka “a purely Japanese phenomenon”.
Yang memantapkan itu adalah para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasarkan keberhasilan anak-anaknya baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talent, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anaknya pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan PR atau menemani mengikuti pelajaran privat demi menyempurnakan pendidikannya.

Membantu Ekonomi Bangsa
Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu melalui proses akademis dan proses sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek sosialisasi pendidikan sama pentingnya dengan aspek akademis, sebab hal itu membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial.
Mengingat kyouiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil, sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu, para guru punya ketenangan dan waktu yang cukup untuk membelajarkan pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi dan lain-lain atribut dari sistem nilai Jepang.
Menurut Tony Dickensheets, sejak dini pelajar Jepang menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178 hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian besar waktu libur anak-anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas dan guru. Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang dalam proses training.
Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang, keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini, paling sedikit tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang, kyouiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya dalam pendidikan anaknya.

Read Full Post »

PAIKEM, merupakan salah satu bentuk sederhana, praktis dan praktik, sebagai ejawantah dari PP Nomor 19/2005 “pembelajaran dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.   Pada pelaksanaannya di lapangan tidak mudah melaksanakan PAIKEM ini, beberapa faktor yang menyebabkan PAIKEM menjadi sulit dan rumit untuk dilaksanakan adalah:

1. Miskonsepsi 1: PAIKEM dianggap sebagai lawan dari metode ceramah

Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak digunakan guru dalam menyampaikan materi.  Terdapat kesalahan konsepsi, bahwa “metode ceramah merupakan metode yang jelek dan harus dihindari guru dalam pengajarannya di kelas“.  Tentu saja, ini salah besar, karena tanpa ceramah dari pengajar proses pembelajaran tidak akan belajar.  Konsep yang benar bukan menghindari ceramah tetapi bagaimana mengubah praktek dari sekedar transfer pengetahuan menjadi kontruksi pengetahuan, dari “berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa”  dari “guru aktif berbicara menjadi guru sabar menunggu siswa bicara”  dan percaya atau tidak…semua semua praktek itu bisa dilakukan dengan metode ceramah.

2.  Miskonsepsi 2: PAIKEM adalah aktifitas fisik dan motorik

Ada anggapan, makin ribut sebuah kelas menunjukkan aktifitas PAIKEM makin baik.  Tentu saja ini salah besar, karena esensi dari PAIKEM adalah

bagaimana mengaktifkan kognitif/mental siswa untuk berpikir, ketika mereka berpikir/memecahkan masalah, guru menggunakan semua ranah siswa (kognitif, afektif, psikomeotorik) dan melibatkan semua gaya belajar siswa (audio-visual-kinestetik) secara proposional, serta mengkonstruksinya secara sosial“,

jadi aktifitas “berfikir” menjadi pokok dan titik tekan dalam PAIKEM.  PAIKEM juga bukan asal siswa senang [Joyfull], tetapi bagaimana aktifitas berpikir itu diberikan dalam suasana menyenangkan, bebas dari tekanan yang bersifat drilling.

3.  Teknis 1: Kurang contoh dalam pelatihan guru

Banyak pelatih para guru adalah dosen atau widyaswara yang tidak beranjak dari praktis.  Sehingga yang diberikan oleh para pelatih ini bersifat konseptual, teoritis, dan miskin ‘contoh’.  Tidak jarang pelatihan hanya memberikan sederet ‘teori’ saja, dan para peserta pelatihan pun enggan meminta “simulasi” dari para pelatihnya.  Simulasi dalam pelatihan menjadi sangat penting, karena apa yang disimulasikan dapat menjadi ‘role model’ bagi para guru.

4. Teknis 4: Motivasi intern para guru

Motivasi intern menjadi faktor yang paling dominan yang membuat PAIKEM tampak menjadi sulit, rumit, dan imposibble  diterapkan.  Guru harus keluar dari belenggu  ‘takut salah, sehingga takut mencoba’  …  dari jeruji ‘merasa cukup, sehingga enggan berinovasi‘   … dari sel ‘bekerja sebagai guru, sehingga mengajar sekedarnya‘ ……….. guru harus mampu menjadi sosok  ‘pemberani dan tidak takut salah, pembelajar sepanjang hayat, dan pemberi inspirasi bagi siswa

5.  …………………. [opini anda???]

Berikut ini adalah bahan pelatihan PAIKEM yang diberikan pada PLPG, bahannya mungkin sama saja dengan bahan2 standar yang biasa diberikan pada pelatihan PAIKEM oleh Kemendiknas dan Kemenag, yang lebih penting sebenarnya adalah “KEBERANIAN MENCOBA TEKNIK2 PAIKEM DI KELAS, DAN JANGAN PERNAH TAKUT SALAH UNTUK IMPROVISASI, TIDAK PERLU TERLALU PERSIS LANGKAH2 PEMBELAJARANNYA, improvisasi diperlukan agar inovatif-nya muncul.  Silahkan unduh bahannya di bawah ini, dan silahkan mencoba:

PAKET PAIKEM BAGI PESERTA PELATIHAN <————– [KLIK JIKA AKAN MENGUNDUHNYA]

Read Full Post »

DEVELOPMENT OF  VALUE EDUCATION THOUGH STORIES BASED ON SCIENCE: HOW TO INTEGRATE VALUE AND SCIENCE IN BASIC SCHOOL?

Abstract

In basic school curriculum 2006, value education was not separated as independent subject, except in basic school curriculum based on Islam.  In Curriculum based on Islam, value education still learn in aqidah-akhlak subject matter. In common curriculum, value education was integrated with many subjects, such as natural science, civic education, social science,   and as text reading in Indonesian Language. If we analyzed science curriculum of basic school, we would find three values that must teach to students, i.e. scientific values, social values, and religious values. Science build with process and result, from this fundamental, we will found, science contains moral values, social values, humanism values, scientific values, and religious values.   This article tells about how to develop values in science learning. Why  stories based on science are more effective for develop value education in science learning..

Keywords:  scientific value, social value, religious value, stories based on science 

Artikel lengkap bisa diunduh disini DEVELOPMENT OF VALUE EDUCATION THOUGH STORIES BASED ON SCIENCE: HOW TO INTEGRATE VALUE AND SCIENCE IN BASIC SCHOOL?

Read Full Post »

 Acapkali kita sedikit bingung dengan pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran kooperatif, dibawah ini akan diulas tentang makna pembelajaran kolaboratif, perbedaannya dengan pembelajaran kooperatif, dan bagaimana pembelajaran kolaboratif dilakukan di kelas.    

(lebih…)

Read Full Post »

Keberadaan madrasah di negara yang katanya mayoritas Islam, masih dianggap sebelah mata. Bahkan banyak yang tidak mengerti bahwa madrasah ibtidaiyah, tsnawiyah, dan aliyah termasuk pendidikan formal. Ini semua karena pendidikan islam terlanjur dikerdilkan sejak zaman penjajahan Belanda (kolonialisme klasik) dan mungkin sampai zaman kapitalisme (neo kolonialisme) seperti saat ini. Alasannya cukup sederhana, madrasah identik dengan islam, dan islam mengandung bahaya ideologis. Banyak orang menampikkan islam sebagai ideologis , mereka berdalih islam is moderate…atau islam is only religion…sampai keluarlah kalimat ISLAM YES, PARTAI NO, tapi semua tampikkan itu, makin memperkokoh wajah islam sebagai sebuah ideologis. Maka islam pun dipandang sebagai ancaman bagi ideologis lainnya. Maka jadilah Islam sebagai ancaman bagi kolonialisme apapun bentuknya baik klasik atau pun neo, ataupun metamorfosis lainnya yang berideologi liberalisme, kapitalisme, atau sosialisme.

(lebih…)

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.