Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘guru’

PAIKEM, merupakan salah satu bentuk sederhana, praktis dan praktik, sebagai ejawantah dari PP Nomor 19/2005 “pembelajaran dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.   Pada pelaksanaannya di lapangan tidak mudah melaksanakan PAIKEM ini, beberapa faktor yang menyebabkan PAIKEM menjadi sulit dan rumit untuk dilaksanakan adalah:

1. Miskonsepsi 1: PAIKEM dianggap sebagai lawan dari metode ceramah

Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak digunakan guru dalam menyampaikan materi.  Terdapat kesalahan konsepsi, bahwa “metode ceramah merupakan metode yang jelek dan harus dihindari guru dalam pengajarannya di kelas“.  Tentu saja, ini salah besar, karena tanpa ceramah dari pengajar proses pembelajaran tidak akan belajar.  Konsep yang benar bukan menghindari ceramah tetapi bagaimana mengubah praktek dari sekedar transfer pengetahuan menjadi kontruksi pengetahuan, dari “berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa”  dari “guru aktif berbicara menjadi guru sabar menunggu siswa bicara”  dan percaya atau tidak…semua semua praktek itu bisa dilakukan dengan metode ceramah.

2.  Miskonsepsi 2: PAIKEM adalah aktifitas fisik dan motorik

Ada anggapan, makin ribut sebuah kelas menunjukkan aktifitas PAIKEM makin baik.  Tentu saja ini salah besar, karena esensi dari PAIKEM adalah

bagaimana mengaktifkan kognitif/mental siswa untuk berpikir, ketika mereka berpikir/memecahkan masalah, guru menggunakan semua ranah siswa (kognitif, afektif, psikomeotorik) dan melibatkan semua gaya belajar siswa (audio-visual-kinestetik) secara proposional, serta mengkonstruksinya secara sosial“,

jadi aktifitas “berfikir” menjadi pokok dan titik tekan dalam PAIKEM.  PAIKEM juga bukan asal siswa senang [Joyfull], tetapi bagaimana aktifitas berpikir itu diberikan dalam suasana menyenangkan, bebas dari tekanan yang bersifat drilling.

3.  Teknis 1: Kurang contoh dalam pelatihan guru

Banyak pelatih para guru adalah dosen atau widyaswara yang tidak beranjak dari praktis.  Sehingga yang diberikan oleh para pelatih ini bersifat konseptual, teoritis, dan miskin ‘contoh’.  Tidak jarang pelatihan hanya memberikan sederet ‘teori’ saja, dan para peserta pelatihan pun enggan meminta “simulasi” dari para pelatihnya.  Simulasi dalam pelatihan menjadi sangat penting, karena apa yang disimulasikan dapat menjadi ‘role model’ bagi para guru.

4. Teknis 4: Motivasi intern para guru

Motivasi intern menjadi faktor yang paling dominan yang membuat PAIKEM tampak menjadi sulit, rumit, dan imposibble  diterapkan.  Guru harus keluar dari belenggu  ‘takut salah, sehingga takut mencoba’  …  dari jeruji ‘merasa cukup, sehingga enggan berinovasi‘   … dari sel ‘bekerja sebagai guru, sehingga mengajar sekedarnya‘ ……….. guru harus mampu menjadi sosok  ‘pemberani dan tidak takut salah, pembelajar sepanjang hayat, dan pemberi inspirasi bagi siswa

5.  …………………. [opini anda???]

Berikut ini adalah bahan pelatihan PAIKEM yang diberikan pada PLPG, bahannya mungkin sama saja dengan bahan2 standar yang biasa diberikan pada pelatihan PAIKEM oleh Kemendiknas dan Kemenag, yang lebih penting sebenarnya adalah “KEBERANIAN MENCOBA TEKNIK2 PAIKEM DI KELAS, DAN JANGAN PERNAH TAKUT SALAH UNTUK IMPROVISASI, TIDAK PERLU TERLALU PERSIS LANGKAH2 PEMBELAJARANNYA, improvisasi diperlukan agar inovatif-nya muncul.  Silahkan unduh bahannya di bawah ini, dan silahkan mencoba:

PAKET PAIKEM BAGI PESERTA PELATIHAN <————– [KLIK JIKA AKAN MENGUNDUHNYA]

Read Full Post »

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Pendidikan Aksara Edisi 37 September 2010 halaman 7

Ketika saya memberikan materi pelatihan lesson studi, para guru selalu bertanya apa beda antara lesson studi dan penelitian tindakan kelas? Bahkan para guru di singapura yang telah diwajibkan membuat laporan penelitian kelas tiap semester, ketika lesson studi diperkenalkan, pertanyaan mereka adalah apakah lesson studi dan penelitian tindakan kelas dua kegiatan berbeda? Bisakah keduanya digabungkan? Tulisan ini akan mengupas lebih mendalam tentang lesson studi dan penelitian tindakan kelas dan kemungkinan menggabungkannya dalam sebuah kegiatan pembelajaran.

(lebih…)

Read Full Post »

Keberadaan MGMP yang diharapkan bisa menjadi media bagi peningkatan dan pemerataan mutu tenaga pendidik yang lebih intens, cenderung vakum dan mengalami situasi yang kurang diminati.  Hal tersebut akibat MGMP masih berkutat sebatas membahas dan mengerjakan RPP, Silabus, dan kisi-kisi soal (Kasie Kurikulum Dikmenum Disdikpora Kota Bogor, Aksara Edisi 22)

Dari paparan Pak Ari di atas, tampak kekhawatiran dari Kasie Kurikulum Dikmenum Kota Bogor, tentang keberadaan MGMP.   Sebagai sebuah kegiatan memantapkan profesionalisme guru, MGMP memang memiliki banyak nilai plus, walaupun bersifat rutinitas dan acapkali menjadi kurang gereget.  Akibat kurang inovasi, banyak forum MGMP yang akhirnya terjebak pada sebuah rutinitas saling meng”copy paste”  RPP dan silabus.  Sebenarnya tidak ada salahnya melakukan “copy paste” silabus dan RPP,  jika dibarengi dengan sebuah pengalaman bahwa silabus dan RPP yang digunakan terbukti keefektifannya.  Untuk menguji keefektifan sebuah RPP, maka diperlukan implementasi.   Pemantauan terhadap implementasi RPP  secara kolaboratif  dan kolegalitas itulah yang kemudian terkenal dengan Lesson Studi.

(lebih…)

Read Full Post »

Hari ini kuliah terakhir media pembelajaran bersama para mahasiswa yang penuh semangat….saya sedang mengajarkan kepada mereka bagaimana cara memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran.  Mudah-mudahan bermanfaat bagi mereka hari ini dan kelak ketika sudah menjadi guru. Selamat Berjuang mahasiswa ku tersayang!

Read Full Post »

5.000 rupiah! bisa beli apa? di bulan Ramadhan ini 5.000 bisa membeli secangkir es buah cirebon yang biasa manggkal di pinggir jalan, yang melepas dahaga ketika bedug berbunyi. Bagi perokok mungkin membeli sebungkus rokok, yang kemudian rokok tersebut dibakar dan rahib entah kemana. Atau mungkin membeli sekotak singkong keju made in Bandung. Atau membeli semangkuk bakso di pedagang kaki lima. Itulah 5.000 rupiah!

Tetapi bagi guru, donasi 5.000 rupiah sangat berharga untuk melangsungkan pendidikan mereka. Sebagaimana kita ketahui bersama UU No 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional mensyarat S1 bagi guru SD-SMA, Begitu pula UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen mensyaratkan kualifikasi S1 untuk guru yang layak mendaftar dan mendapatkan sertifikasi profesi guru. Dan disebutkan lagi di PP 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, bahwa kualifikasi akademik guru minimal S1 dan punya sertifikasi pendidik.
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
Padahal fakta kini menurut Mendiknas dari 2, 7 juta guru, sebanyak 65% belum sarjana.
UU No 14 Tahun 2005 selain mengusung sertifikasi juga mengusung kesejahteraan, karena sertifikasi pendidik adalah hak semua guru di sekolah swasta dan negeri, dan mendapatkan sertifikasi berarti mendapatkan tunjangan profesi sebagai guru, dengan tunjangan sama dengan jumlah gaji pokok guru PNS. Bagi guru tidak tetap (GTT) yang selama puluhan tahun dijalaninya tentu saja ini angin segar. Tetapi pintu masuk untuk itu semua adalah KUALIFIKASI S1.
Sayangnya tak semua guru mampu meneruskan S1, terutama mereka yang berstatus GTT. Jika pemerintah mempunyai program beasiswa bagi guru PNS, maka bagi guru GTT acapkali harus gigit jari. Bayangkan sudah gaji kecil (honor GTT berkisar 250 – 550 ribu, kasus Bogor), akses beasiswa pemerintah kecil peluangnya, tentu saja ini bentuk marjinalisasi.
Semua pasti sepakat di tangan guru masa depan anak bangsa ini berada. Menyaksikan fakta-fakta itu, sebenarnya kita bisa mengulurkan tangan kita, dengan 5.000 sehari, maka kita sudah membantu pendidikan bangsa, sekaligus mensejahterakan guru di masa depan. Investasi yang luar biasa bukan.
Caranya gampang, cukup bergabung dengan komunitas kami, postingkan email anda, dan anda akan terlibat dan dilibatkan pada komunitas “santun pendidikan guru”. 5.000 per hari dari seseorang ditambah dengan 5.000 per hari dari 4 orang lainnya cukup untuk mendanai 1 orang guru melanjutkan pendidikan di PT. Sederhana bukan? sesederhana anda mengeluarkan 5.000 per hari.

Read Full Post »

Pagi itu Pak Narto dimumetkan dengan masalah keluarganya. Isterinya narah-marah, biasa masalah klasik “kekurangan uang belanja”. Anaknya bertengkar memperebutkan pensil. Walaupun pertengkaran kecil, tetapi memusingkan kepalanya. Pak Narto meninggalkan kesemerawutan dikeluarganya, ia menancap gas menuju tempat mengajar. Perjalanan Pak Narto dipenuhi wajah cemberut dan serius. Otaknya pun berputar-putar memikirkan masalah rumah tangganya. Sampai di gerbang sekolah, tampak anak-anak berseragam merah putih berduyun-duyun memasuki gerbang. Pak Narto memperlambat laju sepeda motornya, dan membuka kaca helmnya. Pak Narto! Seru seorang anak. Assalamualaikum! Sambil tersenyum anak-anak menyapa dan menyalami tangan Pak Narto. Pak Narto menjawab salam dan pada akhirnya harus pula tersenyum. Suatu keajaiban terjadi. Kedumelan hati Pak Narto menjadi hilang dan kemumetan rumah pun terlupakan. Dengan muka berseri, kini Pak Narto memasuki ruang guru dan menyapa, memberi salam, dan tersenyum pada rekan-rekan guru yang terlebih dahulu datang. Ajaibnya, seakan melupakan segala kerumetan di rumah tangganya, Pak Narto pun dengan semangat masuk ke kelas, menyapa, memberi salam, dan tersenyum pada muridnya.

Apa yang dialami Pak Narto mungkin kita alami pula. Sapa, salam, dan senyum adalah perbuatan yang sepele dan sangat kecil. Tetapi perbuatan tersebut mampu menyembuhkan kekesalan, kegundahan, dan bahkan kesedihan. Keajaiban apa yang ada pada sapa, salam, dan senyum?

(lebih…)

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.